Opini

Kabar dari Lumajang: Refleksi perjuangan Warga Wotgalih menolak tambang

By  | 

Tidak terasa sudah hampir 3 tahun lamanya warga Wotgalih berjuang mempertahankan lingkungannya dari ulah tangan jahil manusia yang ingin merusak lingkungan dengan cara mengeksploitasi alam dengan cara penambangan. Sumber daya alam (SDA) di Wotgalih yang kita ketahui adalah limpahan pasir besi yang tak terbaharukan.

Sang penambang/perusak lingkungan, dengan berbagai cara mereka memaksakan diri untuk bisa mengambil SDA yang ada diwilayah pesisir selatan pantai. Perusahaan pertambangan atau korporasi banyak mengumbar janji dengan dalih tambang untuk kesejahteraan rakyat, jika selesai ditambang akan memperbaiki lingkungan, dan masih banyak lagi buaian yang mereka iming-imingkan kepada warga. Tapi beruntung karena warga punya iman dan mereka tahu jika SDA tersebut tak tebaharukan alias tidak bisa diganti dengan apapun dan sifatnya habis.

Yang paling penting adalah bahwa warga menolak karena pasir tersebut dibuat Tuhan sebagai peredam dan benteng pemukiman penduduk dari ganasnya ombak laut selatan. Terutama warga nantinya tidak mau mewariskan lingkungan yang rusak kepada anak cucunya kelak, bisa-bisa cepat atau lambat jika alam dirusak maka yang terjadi lambat laun justru bencana dan malapetaka yang datang.

Korporasi mempunyai kekuatan finansial yang lebih, dengan demikian mereka bisa berbuat apa saja yang mereka mau, bahkan pemerintah/penguasa yang seharusnya melindungi serta mengayomi rakyatnya, justru mereka melindungi dan mendukung pada pengusaha atau korporasi untuk merusak lingkungan dengan cara menambang untuk kepentingan sesaat dan mereka tidak berfikir bagaimana kehidupan masyarakat selanjutnya.

Sudah menjadi pemandangan umum di negeri ini jika ada masalah seperti ini, masyarakat mengadu untuk menyampaikan aspirasi dengan cara apapun kepada pemerintah/penguasa tetapi mereka tidak memberikan solusi dan penyelesaian sama sekali kepada rakyatnya.

Dimana-mana di wilayah negeri tercinta ini, seperti saudara-saudara di Kebumen, Kulonprogo, Porong/Sidoarjo, Bima dan sebagainya. Begitu pula upaya yang dilakukan masyarakat Wotgalih. Justru korporasi dan penguasa bekerjasama dengan segala cara agar penambangan bisa lolos antara lain warga dipecah belah, menggunakan preman, menggunakan aparat penegak hukum yang seharusnya melindungi dan mengayomi warga.

Disinilah timbul ketidakadilan kepada rakyat utamanya rakyat kecil. Contoh banyak terjadi kriminalisasi, bahkan tindakan reperesi aparat sampai jatuh korban jiwa dan banyak contoh kejadian-kejadian lainnya. Beginilah hak-hak masyarakat dirampas dan merasa terjajah serta terinjak-injak harga dirinya.

Kapankah negeri ini bebas dari penjajahan kapitalis? Kapankah pemerintah/penguasa baik eksekutif, legislatif dan yudikatif berlaku adil, mengayomi, memperhatikan serta melindungi rakyatnya? Tapi kami akan tetap tidak akan menyerah dan terus berusaha menolak tambang pasir besi sekuat tenaga dan juga memanjatkan do’a kepada sang pencipta alam semesta “lidungi dan selamatkan kami dari orang-orang yang merusak alam ciptaanmu sebagai tempat tinggal kami, jauhkan kami dari orang yang berjiwa serakah, sadarkan bagi orang yang merusak alam ciptaanmu”.

Merusak alam/mengeksploitasi SDA yang tak terbaharukan sama dengan merusak tempat tinggal kita sendiri dan juga merusak diri kita sendiri. Mari rawat alam kita dengan baik sebagai tempat tinggal kita dan warisan untuk anak cucu kita kedepan, mari kita perangi dan cegah perusakan alam seperti penambangan, karena bila tidak maka bencana/adzab dari Tuhan yang datang. Bencana datang bukan dari Tuhan tapi datang dari sifat ulah keserakahan manusia itu sendiri .

Maka dari itu kita ingat masa perjuangan nenek moyang kita mempersatukan diri melawan kolonialis, dengan semangat proklamasi kemerdekaan akhirnya bangsa kita indonesia ini bisa merdeka. Begitu pula saat sekarang ini kita menghadapi penjajahan kapitalis, maka jika ingin menang kita harus bersatu dalam menghadapi kaum serakah kapitalis.

“Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh/ Rawe-rawe rantas malang-malang puntung” 22 Januari 2013


Ditulis oleh A.M Riwan salah satu Petani Wotgalih, Lumajang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *