Opini

Kemenyan yang tak lagi magis

By  | 

Tombak Haminjo adalah bahasa lokal untuk menyebut hutan kemenyan. Bagi sebagian masyarakat Batak kemenyan adalah sebuah ruang hidup nya. Selain banyak masyarakat Batak yang menggantungkan hidup dari pohon-pohon kemenyan, masyarakat Batak juga mempercayai bahwa ada nilai magis di pohon kemenyan tersebut.

Ada kepercayaan di masyarakat ketika menyadap getah kemenyan, para petani kemenyan dalam menyadap getah kemenyan biasanya sambil bersenandung. Selain untuk membunuh rasa sepinya, banyak petani yang meyakini bahwa yang menunggu di pohon kemenyan itu adalah seorang putri. Maka dari itu dengan bersenandunglah pohon kemenyan itu akan mengeluarkan getahnya. Sebelum agama kristen masuk Tano Batak, kemenyan banyak digunakan masyarakat Batak untuk kegiatan ritual Penyembahan Alam. Seperti tradisi penghormatan kepada Sang Pencipta. Asap pembakaran kemenyan yang membumbung tinggi menjadi representasi doa yang juga naik kepada Sang Pencipta.

Sentra produksi kemenyan di Sumatra utara berada di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) , PakPak Bharat, dan Humbang Hasundutan. Daerah Tapanuli di Sumatera Utara, merupakan penghasil kemenyan terkenal di dunia pada abad ke-5 masehi dan bahkan jauh sebelumnya. Bahkan kemenyan dari daerah tersebut di ekspor sampai ke Timur Tengah, Eropa, dan China. Pengiriman kemenyan tersebut dilakukan dari Pelabuhan Barus, Sumatera Utara.

Ada sebuah cerita yang berkembang di masyarakat Tapanuli. Masyarakat setempat meyakini sebuah cerita, bahwa salah satu persembahan selain emas dan mur, kemenyan yang di bawa oleh tiga majuz atau cendikiawan dari timur untuk bayi Yesus yang baru di lahirkan di Betlehem adalah kemenyan dari Tanah Tapanuli. Cerita itu semakin bergulir mengingat sebagian besar penduduk Tapanuli beragama Kristen dan Katolik yang erat dengan cerita kelahiran Nabi Isa.

Tempat tumbuh tanaman kemenyan bervariasi, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi, yaitu pada ketinggian tempat 60-2100 m dari permukaan laut (dpl) dan hanya dapat tumbuh di jenis-jenis tanah: po-solik, andosol, lotosol, dan regosol. Tanaman ini dapat bertahan hidup sampai dengan 100 tahun. Sebenarnya ada sekitar 20 jenis pohon kemenyan, tapi yang dibudidayakan di Kabupaten Tapanuli Utara ada 2 jenis, yaitu : hamija-on toba (Styrax paralleloneurum) dan hamijon durame (Styrax benzoin). Kedua jenis tanaman kemenyan ini termasuk ordo Ebenales, family Styraceae dan genus Styrax. Kemenyan durame lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan jenis toba. Durame bisa disadap sejak umur 6-7 tahun dengan warna getah cenderung hitam, sedangkan toba baru disadap umur 10-13 tahun dengan jenis getah putih. Sedangkan getah kemenyan itu bisa di kelompokkan dalam tujuh macam, yakni mata kasar, kacang, jagung, besar, pasir kasar, pasir halus, hingga abu.

Cara penyadapan kemenyan berbeda dengan karet, penyadapan getah kemenyan tak perlu wadah. Getah dibiarkan keluar dari batang pohon, meleleh di kulit pohon. Pada cukilan pertama, batang pohon akan menghasilkan getah berwarna putih yang baru bisa diambil sekitar tiga bulan kemudian. Getah itu menempel di kulit pohon sehingga untuk memanen petani harus mencongkel kulit batang kemenyan.

Getah putih yang disebut sidukabi atau mata zam-zam ini bernilai paling tinggi. Bekas cukilan itu akan menghasilkan tetesan getah kedua yang disebut jalur atau jurur yang bisa dipanen dua-tiga bulan setelah memanen mata zam-zam. Setelah itu muncul getah ketiga yang disebut tahir. Harganya jauh lebih murah daripada harga mata. Jika mata berwarna putih, warna tahir atau jurur semakin menghitam.

Kemenyan dari Sumatera Utara, sebagian besar atau sekitar 90 persen didistribusikan ke Jawa Tengah sebagai bahan campuran rokok klembak menyan. Bukan itu saja, kemenyan bahkan memiliki banyak manfaat lain. Kemenyan mengandung olibanol, materi resin, dan terpenes. Kandungan lain, saponin, flavonoida dan polifenol.

Baru-baru ini para ilmuwan telah mengamati bahwa di dalam kemenyan ada kandungan yang dapat menghentikan penyebaran kanker. Namun dulu pada abad kesepuluh, Ibnu Sina, ahli pengobatan Arab, merekomendasikan kemenyan sebagai obat untuk tumor, bisul, muntah, disentri dan demam dan dalam pengobatan tradisional Cina, kemenyan digunakan untuk mengobati masalah kulit dan pencernaan.

Pada tahun 1960-an harga kemenyan benar-benar sama dengan emas. Saat itu harga satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas atau satu kilogram kemenyan juga setara satu kaleng (16 kilogram) beras. Tetapi sekitar tahun 1980-an harga kemenyan terus merosot hingga hanya separuh, bahkan sepertiga harga satu gram emas. Menurut Thomson Silaban, staf bidang rehabilitasi hutan Dinas Pertambangan dan Kehutanan Kabupaten Humbang Hasundutan, jika sebelum tahun 1980 kemenyan mampu menyumbang 60 persen ekonomi rumah tangga, kini turun menjadi sekitar 20 persen. Harga kemenyan saat ini hanya sekitar Rp 120 ribu per kilogram nya untuk kemenyan putih kualitas terbaik. Kemenyan yang dulu nya diekspor bisa mencapai 10 ton, saat ini cuma 5 ton dan itu masih di campur damar. ini disebabkan karena keberadaan hutan kemenyan milik masyarakat menyusut karena alih fungsi lahan untuk tanaman industrial kertas oleh PT Toba Pulp Lestari (TPL). Luas hutan yang masih produktif saat ini tinggal 15 ribu hektar.

Karena itulah tak heran jika masyarakat di Kabupaten Humbang Hasundutan marah ketika PT Toba Pulp Lestari (TPL) menebangi pohon kemenyan mereka. Karena masyarakat Humbang Hasundutan sudah merasa Haminjo ( hutan kemenyan ) ini sebagai ruang hidup mereka. Perlawanan masyarakat terhadap PT Toba Pulp Lestari (TPL) dimulai sekitar pertengahan tahun 2009. Ketika masyarakat Sipituhuta dan Pandumaan mengetahui Tombak Haminjon mereka telah dirambah oleh PT TPL, Spontan mereka berangkat memeriksa areal di mana peristiwa itu sedang berlangsung. Sampai di Tombak Haminjon, mereka menemukan para pekerja TPL yang sedang memotongi pohon. Warga meminta agar pekerja berhenti melakukan pemotongan kayu dan meninggalkan tanah adat mereka. Tetapi permintaan warga dihiraukan oleh PT TPL.

Dalam hitungan hari saja TPL meratakan pepohonan di atas tanah seluas 200 ha di areal tanah adat Sipituhuta dan Pandumaan. Ribuan warga melakukan protes ke Pemkab dan DPRD dan DPRD Humbahas atas apa yang telah dilakukan oleh TPL di tanah adat mereka. Ketua DPRD berjanji akan membawakan persoalan dan permintaan warga ke dalam rapat Muspida. Tapi sampai saat ini TPL masih beroperasi di tanah adat mereka. Tidak ada penyelesaian apapun dari pihak DPRD setempat.

PT TPL membawa dampak-dampak yang negatif bagi lingkungan sekitar tempat penebangannya. Di antaranya bencana dan kerusakan lingkungan akibat penebangan dengan sistem tebang habis, terganggunya DAS yang mengakibatkan banjir dan longsor, punahnya tanaman endemik berupa kemenyan yang merupakan mata pencaharian utama masyarakat secara turun-temurun dan punahnya hewan/species langka yang harus dilindungi. Selain terjadi kerusakan lingkungan di sekitar areal penebangan. Muncul penyakit ISPA (infeksi saluran pernafasan) dan gatal-gatal. Karena sungai di sekitar areal penebangan tercemar. Hasil produksi pertanian pun menurun, karna munculnya hama dan penyakit tanaman. PT TPL juga kerap menimbulkan konflik horizontal di antara masyarakat untuk upaya memecah belah masyarakat.

Kementerian Kehutanan tidak pernah memberikan sanksi yang tegas terhadap izin konsensi kepada PT TPL. Salah satu contohnya adalah Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan No: 493/Kpts-II/1992, tentang Pemberian Hak pengusahaan HTI kepada PT Inti Indorayon Utama seluas 269.060 hektar. Faktanya bahwa menteri Kehutanan tidak pernah berani mencabut izin konsesi PT TPL meskipun telah terbukti mengusahai hutan alam di luar izin/konsesi yang diberikan sebagaimana sanksi pencabutan yang diatur dalam PP No 6 tahun 2007 Tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan. PT TPL telah mengingkari kewajiban untuk menata batas areal konsesinya 36 bulan sejak diterbitkan izin HPH-TI pada tahun 1992 sebagaimana di atur di dalam SK Menhut No. 493/Kpts-II/1992 tentang izin Indorayon.

Selain itu, PT TPL juga telah melanggar Permenhut No. P.47/Menhut-II/2010 tentang Panitia tata Batas, Permenhut No. P.50/Menhut-UU/2011 tentang Pengukuhan Kawasan Hutan, SK Gubsu No. 188.44/813/Kpts/2011 tentang Pembentukan Panitia Tata Batas Kawasan Hutan Se-Sumut, dan terakhir Instruksi Menhut No. SE-1/Menhut-II/2012 tentang Penataan Batas Areal Izin Usaha Pemanfaatan Hutan. Kenyataannya, sampai kini 20 tahun beroperasi, tidak ada tindakan tegas dari pemerintah berupa sanksi penutupan PT TPL atas berbagai permasalahan yang diakibatkannya sebagaimana dijelaskan di atas.

Tuntutan warga adalah Pemerintah juga harus mencabut ijin konsesi baik HPH/TI PT TPL, mengembalikan tanah ada yang diklaim PT TPL sebagai konsesinya, serta pengakuan dari pemerintah atas tanah adat itu. Apabila pemerintah tidak segera menutup PT TPL berarti pemerintah melegalkan penyiksaan terhadap masyarakat. Selain itu jika penebangan terus dilakukan maka banyak masyarakat sekitar yang kehilangan mata pencahariannya, serta cerita kemenyan yang magis itu cuma jadi cerita kemenyan yang tak magis lagi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *