Yogyakarta – Minggu, 3 April 2015 lalu, Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP-KP) genap berusia 10 tahun. Sebuah usia organisasi perjuangan yang dapat dikatakan tidak lagi muda jika dibandingkan dengan fenomena tumbuh layunya beberapa organisasi perjuangan petani lainnya.

Dalam merayakan ulang tahunnya yang ke-10, PPLP-KP sudah memulai perayaan dari sejak Sabtu (2/4) malam dengan beberapa kegiatan seperti doa bersama, pemutaran film, dan diskusi antar komunitas warga. Kegiatan ini digelar di desa Plered, salah satu desa yang menjadi basis perjuangan PPLP-KP. Menurut beberapa pengurus, pemutaran film perjuangan yang mereka lakukan bertujuan agar setiap anggota tetap memiliki ketajaman ingatan perjalanan perjuangan. Dalam kegiatan ini, beberapa organisasi perjuangan yang berasal dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta juga turut hadir. Sebagian dari mereka sudah tiba di Plered sejak Sabtu malam.

Dalam puncak perayaannya, hari Minggu, seluruh anggota PPLP-KP dari berbagai kalangan, perempuan-laki-laki, tua-muda, bahkan anak-anak sejak pagi sudah tumpah ruah di jalan Daendels, pesisir Kulon Progo. Mereka bersuka cita, meneriakkan yel-yel perjuangan seperti, “Hidup PPLP, Bertani atau Mati” sambil berkonvoi di sepanjang jalan. Tidak kurang, dalam konvoi ini, 1000 orang turun ke jalan.

Selanjutnya, saat hari menjelang siang, pemotongan tumpeng pun dilakukan oleh Supriyadi, ketua PPLP-KP. Secara simbolis, potongan tumpeng diberikan kepada anak-anak anggota PPLP-KP, dan beberapa delegasi organisasi yang turut hadir. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkembangkan semangat dan kesadaran bagi generasi muda PPLP-KP, serta mempererat tali silaturahmi antar organisasi rakyat.

Acara juga diramaikan oleh orasi-orasi dukungan dari berbagai delegasi organisasi. Delegasi organisasi buruh KSN Bandung, misalnya. Dalam orasinya, selain mengucapkan selamat ulang tahun kepada PPLP-KP, ia juga menegaskan bahwa pekerjaan yang bisa menghidupi banyak orang adalah petani, karena petanilah yang memberi kita makan. Selanjutnya, delegasi dari petani Indramayu juga memberikan dukungan serupa. Selain menyanyikan sebuah lagu perjuangan yang ia tulis sendiri, ia juga mengatakan bahwa petani harus tetap mempertahankan tanahnya dari segala bentuk perampasan. “Hidup mati harus di tanah kita sendiri”, tegasnya.

Aji Kusumo, delegasi dari AKRI juga turut membakar semangat seluruh undangan yang hadir. Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa yang terjadi di Kulon Progo, juga terjadi di daerah-daerah lain di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Fenomena munculnya konflik agraria yang mengatasnamakan pembangunan semakin marak di DIY belakangan ini, bahkan tidak malu-malu memakai nama Sultan Ground (SG) ucapnya. Aji Kusumo adalah seorang aktivis lingkungan yang cukup gigih dalam perjuangan melawan pembangunan yang tidak berpihak terhadap rakyat di DIY. Karena kegigihannya, ia sempat dikriminalisasi dan divonis 3 bulan 15 hari oleh Pengadilan Negeri (PN) Sleman pada Juni 2014 lalu.

Pasca orasi, acara perayaan ultah PPLP-KP dilanjutkan dengan hiburan organ tunggal. Acara semakin meriah dan ratusan pemuda pun larut dalam goyangan lagu dangdut yang disuguhkan oleh para penyanyi.

Menjelang sore, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi refleksi perjuangan antar lintas organisasi. Turut hadir pula dalam diskusi ini beberapa orang akademisi dan peneliti yang berasal Sajogyo Institute (SAINS) Bogor, dan Sekolah Demokratik Ekonomi (SDE) Jakarta. Diskusi refleksi ini, menghantarkan seluruh peserta diskusi, baik petani, buruh ataupun lainnya untuk saling berbagi peran dengan cara yang cerdas untuk memperkuat gerakan rakyat. Gerakan yang dimaksud tentunya, gerakan yang memiliki prinsip perjuangan anti kapitalisme.

PPLP KP berdiri sejak tahun 2006. Anggotanya terdiri dari himpunan petani yang tinggal di 5 desa. Berdirinya PPLP-KP bermula dari penolakan petani di 5 desa yang menolak sebuah rencana berdirinya pertambangan pasir besi di kawasan tempat mereka bermukim dan bertani. Sejak tahun 2006, perjuangan mereka telah mencapai kemenangan-kemenangan yang berarti. Namun, di sisi lain, juga dihadapkan dengan beragam represi baik yang dilakukan oleh negara maupun oleh pihak-pihak yang merasa kepentingannya terhambat seperti, misalnya, kriminalisasi terhadap Tukijo, anggota PPLP-KP yang divonis penjara selama 3 tahun pada Agustus tahun 2010 dan penyerangan oleh preman-preman bayaran pada 20 Agustus 2008 silam. (Fandi)

Editor: Anto

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.