Jawa Tengah- FKMA bersama pegiat Greenpeace Indonesia telah menyambangi petani, buruh dan nelayan Batang yang tergabung dalam UKPWR. Organ UKPWR ini adalah representasi dari massarakyat desa Ujungnegoro, Karanggeneng, Ponowareng, Wonokerso dan Roban; yang tengah berjuang menolak pembangunan lapak PLTU di kawasan pesisir utara Batang.

Tiga tahun perjuangan melawan pembangunan lapak PLTU masih belum menunjukkan hasil signifikan, namun telah melewati dinamika perjuangan yang sangat dinamis dan memberi tempaan pengalaman aksi yang penting bagi massarakyat UKPWR. Di mata massa rakyat, pembangunan PLTU Batang adalah murni kepentingan bisnis swasta, bukanlah kepentingan negara atau kepentingan rakyatnya. Tetapi mobilisasi aparatur negara yang ditujukan untuk membungkam perlawanan massa rakyat UKPWR menuntun kesedaran baru, yang dibangun dari fakta-fakta represi..

Kriminalisasi terhadap beberapa “orang kontra” juga terjadi dan ikut mewarnai dinamika perlawanan massarakyat terhadap kebijakan “pembangunan” yang bakal menggusur petani dari waris tanahnya.  Kebijakan pembangunan lapak PLTU Batang ini, bukan saja kebijakan yang menimbulkan konsekuensi digusurnya petani dari tanah milik dan tanah garapannya. Melainkan juga menimbulkan ancaman lingkungan dan dampak kerentanan terhadap populasi ikan di perairan Batang yang terkenal dengan hasil tangkapan udang yang melimpah pada musim tertentu.

Secara umum, kondisi tanah-tanah pertanian di kawasan yang bakal dibangun lapak PLTU, terutama di desa Karanggeneng; merupakan tanah subur yang produktif.  Kebutuhan 226 Ha lapak PLTU sejauh ini belum terpenuhi seluruhnya. Sarana infrastruktur PLTU yang direncanakan sepihak antara pemerintah dan investor, bakal mengokupasi tanah pertanian subur dan produktif, mencaplok sabuk hijau dan bukit desa di zona utara.

Lahan okupan ini sebagian besar berada di desa Karanggeneng. Selebihnya berada di dua desa sebelah menyebelah, yakni Ujungnegoro dan Ponowareng. Namun didorong oleh kesadaran akan keberlanjutan hidup, mayoritas nelayan dan buruh tani di dua desa lainnya, yakni Wonokerso dan terutama desa Roban, bergabung dalam organ UKPWR ini dengan satu tuntutan yang sama: Menolak PLTU Batang, Selamatkan Konservasi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.